Belajar Dari Kasus Runtuhnya Koperasi Cipaganti

by jivi on June 25, 2014 · 1 comment

logo koperasi cipagantiAkhir-akhir ini dunia investasi Indonesia sedang dihebohkan dengan kejadian di tahannya bos Grup Cipaganti karena kasus penipuan dan penggelapan uang yang di lakukan oleh Koperasi Cipaganti. Koperasi Cipaganti ini sendiri merupakan anak usaha dari Cipaganti Group yang juga bergerak di bidang travel, pertambangan, hotel, dan lain-lain. Sebagai orang Bandung, saya mengetahui Cipaganti merupakan salah satu jasa travel paling terkenal di Bandung yang memiliki armada sangat banyak sekali dan melayani rute yang cukup banyak. Cipaganti juga baru saja melakukan IPO atau penjualan saham kepada publik pada awal tahun ini untuk mendapatkan dana segar buat ekspansi usaha katanya.

Kembali lagi ke Koperasi Cipaganti, koperasi ini awalnya menhimpun dana dengan minimal investasi sebesar 100 juta rupiah dengan bunga / bagi hasil sebesar 1,6-1,95 persen setiap bulan tergantung masa kerja sama. Jadi jika anda investarsi 100 juta saja dalam 1 tahun anda akan mendapatkan minimal 18 juta rupiah, tentu ini sangat menggiurkan karena tentu 18 juta pertahun jauh lebih besar dari bunga bank, jauh lebih besar dari deposito dan tentu akan merasa lebih aman daripada saham dan reksadana. Namun menurut beberapa surat kabar tersiar bahwa dalam rentang waktu 2008-2014, koperasi ini berhasil menghimpun dana sebesar 3,2 triliun yang awalnya digunakan untuk perputaran uang bisnis yang dilakukan oleh cipaganti group.

Namun sejak awal 2014 dimana bisnis pertambangan sudah sangat menurun, kemudian bisnis travel yang semakin “red ocean” membuat koperasi ini gagal membayar kewajiban kepada para investor sehingga mulailah para investor khawatir dan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang mereka kembali. Saya tidak tahu kemana uang 3,2 triliun itu untuk apa dan kenapa pihak koperasi tidak bisa mengembalikan uangnya, tapi disini kita bisa mengambil pelajaran dari kasus runtuhnya koperasi cipaganti ini. Berikut ini adalah beberapa poin yang bisa kita ambil agar tidak terjebak dalam kasus seperti ini dan tentunya kasus cipaganti ini bukanlah kasus yang pertama dan tentunya bukan yang terakhir:

  1. Pilihlah investasi yang memiliki izin usaha investasi – walaupun cipaganti merupakan perusahaan yang telah memiliki nama dan berizin tapi koperasi ini tidak memiliki izin investasi sehingga apabila terjadi kasus seperti ini pihak pemerintah tidak bisa membantu sebesar jika perusahaan investasi memiliki izin.
  2. Jangan tergiur dengan imbal hasil yang tinggi – High risk High Return, mungkin itulah yang terjadi didunia investasi, jika anda mengharapkan hasil investasi yang besar tentu anda harus siap menerima resiko yang besar pula. Mungkin mendapatkan hasil 18 persen setiap tahun masih tergolong wajar hanya ketinggian. Namun apabila ada investasi yang menawarkan diatas 25 persen per tahun apalagi perbulan anda harus hati-hati ya.

Semoga kasus hampir runtuhnya cipaganti ini bisa menjadi pelajaran untuk semua pihak agar lebih berhati-hati dalam melakukan investasi.

Jika anda menyukai artikel dari blog ini, anda bisa meninggalkan komentar atau Berlanggganan RSS feed dan artikel akan langsung terkirim ke email atau RSS reader anda.

{ 1 comment… read it below or add one }

Vhenny Pratiwie June 26, 2014 at 6:54 pm

Iya sodara saya juga ada yang ikut investasi cipaganti dan sampe sekarang uangnya masih belum jelas dibalikin atau tidak

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: